Menu

Nase’ Jhâjhân: Catatan Pagi Sambil Ngopi

Penulis : Prof. H. Amir Santoso, M.Soc.Sc, Ph.D.
Ukuran : 15.5x23 cm
Tebal : viii + 149 hlm.
ISBN : 978-623-6398-19-7
Cover : Soft cover
Berat : 240 gram

Nase’ Jhâjhân adalah dua kata dalam bahasa Madura yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “Nasi Jajan”. Hidangan ini kurang lebih menyerupai nasi rames: nasi yang dilengkapi dengan beragam lauk, biasanya tiga atau empat macam. Dahulu, Nase’ Jhâjhân disiapkan sebagai bekal bagi para pejalan dan lazim dibungkus dengan daun pisang. Di dalamnya dapat ditemukan dendeng, telur ayam rebus, dan yang tak kalah penting, sambal terasi Madura yang khas dan menggugah selera.

Judul Nase’ Jhâjhân dipilih sebagai metafora untuk kumpulan tulisan dalam buku ini. Sebagaimana nasi jajan yang terdiri atas aneka lauk dengan rasa dan karakter yang berbeda, tulisan-tulisan di dalam buku ini juga hadir dengan beragam tema, persoalan, sudut pandang, dan cerita. Sebagian besar tulisan pernah dimuat di media massa, terutama Poskota, maupun sejumlah media online.

Karena pernah diterbitkan sebelumnya, mungkin ada pembaca yang sudah mengenal atau bahkan pernah membaca satu atau beberapa tulisan dalam buku ini. Namun, ketika dikumpulkan dalam satu wadah, tulisan-tulisan tersebut diharapkan menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda—seperti menikmati sebungkus Nase’ Jhâjhân dengan lauk yang beraneka rasa.

Buku ini bukanlah hidangan dengan satu cita rasa. Ia adalah kumpulan gagasan, pengalaman, renungan, dan cerita yang disajikan dalam berbagai bentuk. Semoga, seperti Nase’ Jhâjhân yang sederhana tetapi mengenyangkan, buku ini pun dapat memberi sesuatu yang bermanfaat bagi setiap pembacanya, meskipun hanya sedikit.

Nase’ Jhâjhân: Catatan Pagi Sambil Ngopi

Penulis : Prof. H. Amir Santoso, M.Soc.Sc, Ph.D.
Ukuran : 15.5x23 cm
Tebal : viii + 149 hlm.
ISBN : 978-623-6398-19-7
Cover : Soft cover
Berat : 240 gram

Nase’ Jhâjhân adalah dua kata dalam bahasa Madura yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “Nasi Jajan”. Hidangan ini kurang lebih menyerupai nasi rames: nasi yang dilengkapi dengan beragam lauk, biasanya tiga atau empat macam. Dahulu, Nase’ Jhâjhân disiapkan sebagai bekal bagi para pejalan dan lazim dibungkus dengan daun pisang. Di dalamnya dapat ditemukan dendeng, telur ayam rebus, dan yang tak kalah penting, sambal terasi Madura yang khas dan menggugah selera.

Judul Nase’ Jhâjhân dipilih sebagai metafora untuk kumpulan tulisan dalam buku ini. Sebagaimana nasi jajan yang terdiri atas aneka lauk dengan rasa dan karakter yang berbeda, tulisan-tulisan di dalam buku ini juga hadir dengan beragam tema, persoalan, sudut pandang, dan cerita. Sebagian besar tulisan pernah dimuat di media massa, terutama Poskota, maupun sejumlah media online.

Karena pernah diterbitkan sebelumnya, mungkin ada pembaca yang sudah mengenal atau bahkan pernah membaca satu atau beberapa tulisan dalam buku ini. Namun, ketika dikumpulkan dalam satu wadah, tulisan-tulisan tersebut diharapkan menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda—seperti menikmati sebungkus Nase’ Jhâjhân dengan lauk yang beraneka rasa.

Buku ini bukanlah hidangan dengan satu cita rasa. Ia adalah kumpulan gagasan, pengalaman, renungan, dan cerita yang disajikan dalam berbagai bentuk. Semoga, seperti Nase’ Jhâjhân yang sederhana tetapi mengenyangkan, buku ini pun dapat memberi sesuatu yang bermanfaat bagi setiap pembacanya, meskipun hanya sedikit.