Hamzah Fansuri: Narasi yang Hilang dan Polemik Tasawuf Nusantara
| Penulis | : | Ramli Cibro |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xiv + 156 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-595-6 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Urgensi penelusuran Hamzah Fansuri bagi aktualitas kehidupan masyarakat kontemporer dapat dilantunkan dalam lima kata kunci yakni historiografi, falsafah, mistisisme, etik dan estetik. Pertama, dari historiografi dipahami konstruksi Islam dan politik di masa Hamzah Fansuri maupun masa setelahnya. Kedua, dari falsafah, dapat dipahami bahwa pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri masuk dalam kategori rasional dan suprarasional (metarasional). Ia adalah kepanjangan dari pemikiran Wahdatul Wujud Ibnu Arabi (1165-1240M) yang diyakini memiliki ketinggian filosofis khususnya mengenai metafisika, ontologi dan kosmologi. Ketiga, adalah mistisisme yakni pengembaraan pejalan sufi, perjalanan rohani dan pengalaman kemuncak serta psikologi sufi seperti pengaruh Al-?allâj (858-922M) dan Abu Yazîd Al Busthamî (804-874M). Keempat, etik, berkaitan dengan etika dan nilai yang perlu dipegang oleh seorang insan yang juga diajarkan oleh Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya. Seorang manusia dalam menjalani kehidupan harus memiliki keberanian yang tinggi, ketulusan dalam amal, ketakwaan yang terberi dan utuh dalam tawakal-nya kepada Allah. Kelima adalah estetik, yakni keindahan tutur, struktur syair, kelembutan dan kekayaan kosakata dari syair-syair Hamzah Fansuri. Hal paling utama adalah bagaimana ia menggabungkan estetika teks-teks Al-Qur’an, menyatu dalam bait dan rangkaian syair. Ia membentuk aura mistis dan menambah kekuatan bagi makna-makna isyari’ dari ayat-ayat Al Qur’an yang dinukil. Buku yang berjudul Hamzah Fansuri: Narasi yang Hilang dan Polemik Tasawuf Nusantara ini kemudian hadir untuk mengeksplorasi sekaligus menarasikan lima kata kunci tersebut, sehingga benar-benar teraktual dalam kehidupan sosial masyarakat Islam kontemporer.
Stok Kosong
Hamzah Fansuri: Narasi yang Hilang dan Polemik Tasawuf Nusantara
| Penulis | : | Ramli Cibro |
| Ukuran | : | 15.5 x 23 cm |
| Tebal | : | xiv + 156 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-595-6 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | - |
Urgensi penelusuran Hamzah Fansuri bagi aktualitas kehidupan masyarakat kontemporer dapat dilantunkan dalam lima kata kunci yakni historiografi, falsafah, mistisisme, etik dan estetik. Pertama, dari historiografi dipahami konstruksi Islam dan politik di masa Hamzah Fansuri maupun masa setelahnya. Kedua, dari falsafah, dapat dipahami bahwa pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri masuk dalam kategori rasional dan suprarasional (metarasional). Ia adalah kepanjangan dari pemikiran Wahdatul Wujud Ibnu Arabi (1165-1240M) yang diyakini memiliki ketinggian filosofis khususnya mengenai metafisika, ontologi dan kosmologi. Ketiga, adalah mistisisme yakni pengembaraan pejalan sufi, perjalanan rohani dan pengalaman kemuncak serta psikologi sufi seperti pengaruh Al-?allâj (858-922M) dan Abu Yazîd Al Busthamî (804-874M). Keempat, etik, berkaitan dengan etika dan nilai yang perlu dipegang oleh seorang insan yang juga diajarkan oleh Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya. Seorang manusia dalam menjalani kehidupan harus memiliki keberanian yang tinggi, ketulusan dalam amal, ketakwaan yang terberi dan utuh dalam tawakal-nya kepada Allah. Kelima adalah estetik, yakni keindahan tutur, struktur syair, kelembutan dan kekayaan kosakata dari syair-syair Hamzah Fansuri. Hal paling utama adalah bagaimana ia menggabungkan estetika teks-teks Al-Qur’an, menyatu dalam bait dan rangkaian syair. Ia membentuk aura mistis dan menambah kekuatan bagi makna-makna isyari’ dari ayat-ayat Al Qur’an yang dinukil. Buku yang berjudul Hamzah Fansuri: Narasi yang Hilang dan Polemik Tasawuf Nusantara ini kemudian hadir untuk mengeksplorasi sekaligus menarasikan lima kata kunci tersebut, sehingga benar-benar teraktual dalam kehidupan sosial masyarakat Islam kontemporer.
Stok Kosong