Aksara Terakhir
| Penulis | : | Nariswara Wilis |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | vi +104 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-684-7 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 140 gram |
Ada tempat yang tak tercatat di peta mana pun—tempat di mana waktu berjalan perlahan, dan jarak tak lagi dihitung dengan langkah. Di sana, kata-kata bergema tanpa suara, dan perasaan mengendap seperti kabut yang enggan naik. Segalanya bergerak tanpa terburu-buru, seolah dunia sedang menarik napas dalam-dalam.
Dalam ruang itu, seseorang duduk menatap langit yang sama setiap hari, tak karena ia berharap jawaban, tapi karena ia ingin tetap mendengar pertanyaan. Di sudut lain, seseorang terus menyeduh sesuatu yang hangat untuk jiwa yang mungkin tak pernah datang. Dan di antara keduanya, ada kenangan-kenangan kecil yang hidup diam-diam, tanpa nama, tanpa bentuk, tapi selalu tahu kapan harus muncul kembali.
Tak ada yang betul-betul selesai di sini. Hal-hal tak terucap menggantung seperti benang halus di antara percakapan, menggoyang pelan tapi tak pernah putus. Yang datang bisa saja tak nyata, dan yang pergi belum tentu hilang. Ada bisik-bisik yang hanya terdengar saat kau sedang tidak mendengarkan, dan ada jejak-jejak samar yang hanya tampak bila kau memejamkan mata.
Cinta, di sini, tidak berjalan lurus. Ia melingkar, tersesat, lalu duduk diam dalam diam orang lain. Kehilangan pun tak selalu menyakitkan; kadang ia justru menjadi teman paling setia dari mereka yang terlalu lama menunggu. Beberapa luka tak memilih sembuh, hanya belajar untuk tetap berdenyut dengan tenang.
Buku ini bukan tentang cerita-cerita besar. Ia tentang bayangan, tentang guratan samar di cermin, tentang langkah yang tidak menginjak tanah, tentang suara yang hanya bisa didengar oleh hati yang tak dijaga rapat-rapat. Setiap halaman adalah jalan pulang yang tidak pernah benar-benar sama dua kali, seperti mimpi yang terasa nyata tapi kabur saat kau bangun.
Dan jika kau pernah merasa hampa tanpa tahu apa yang hilang, atau merindukan sesuatu yang tak bisa kau deskripsikan—mungkin, kau tidak sendirian. Mungkin, ada bagian darimu yang sudah lebih dulu menunggu di dalam cerita-cerita ini.
Stok Kosong
Aksara Terakhir
| Penulis | : | Nariswara Wilis |
| Ukuran | : | 14 x 20 cm |
| Tebal | : | vi +104 hlm. |
| ISBN | : | 978-623-466-684-7 |
| Cover | : | Soft cover |
| Berat | : | 140 gram |
Ada tempat yang tak tercatat di peta mana pun—tempat di mana waktu berjalan perlahan, dan jarak tak lagi dihitung dengan langkah. Di sana, kata-kata bergema tanpa suara, dan perasaan mengendap seperti kabut yang enggan naik. Segalanya bergerak tanpa terburu-buru, seolah dunia sedang menarik napas dalam-dalam.
Dalam ruang itu, seseorang duduk menatap langit yang sama setiap hari, tak karena ia berharap jawaban, tapi karena ia ingin tetap mendengar pertanyaan. Di sudut lain, seseorang terus menyeduh sesuatu yang hangat untuk jiwa yang mungkin tak pernah datang. Dan di antara keduanya, ada kenangan-kenangan kecil yang hidup diam-diam, tanpa nama, tanpa bentuk, tapi selalu tahu kapan harus muncul kembali.
Tak ada yang betul-betul selesai di sini. Hal-hal tak terucap menggantung seperti benang halus di antara percakapan, menggoyang pelan tapi tak pernah putus. Yang datang bisa saja tak nyata, dan yang pergi belum tentu hilang. Ada bisik-bisik yang hanya terdengar saat kau sedang tidak mendengarkan, dan ada jejak-jejak samar yang hanya tampak bila kau memejamkan mata.
Cinta, di sini, tidak berjalan lurus. Ia melingkar, tersesat, lalu duduk diam dalam diam orang lain. Kehilangan pun tak selalu menyakitkan; kadang ia justru menjadi teman paling setia dari mereka yang terlalu lama menunggu. Beberapa luka tak memilih sembuh, hanya belajar untuk tetap berdenyut dengan tenang.
Buku ini bukan tentang cerita-cerita besar. Ia tentang bayangan, tentang guratan samar di cermin, tentang langkah yang tidak menginjak tanah, tentang suara yang hanya bisa didengar oleh hati yang tak dijaga rapat-rapat. Setiap halaman adalah jalan pulang yang tidak pernah benar-benar sama dua kali, seperti mimpi yang terasa nyata tapi kabur saat kau bangun.
Dan jika kau pernah merasa hampa tanpa tahu apa yang hilang, atau merindukan sesuatu yang tak bisa kau deskripsikan—mungkin, kau tidak sendirian. Mungkin, ada bagian darimu yang sudah lebih dulu menunggu di dalam cerita-cerita ini.
Stok Kosong