29 Januari 2024 10:00
Teknik Menulis yang Baik dan Benar Lanjutkan membacaMenghadapi Quarter Life Crisis Ala Orang Jepang
Manusia mengalami perkembangan secara bertahap, sejak lahir hingga meninggal dunia. Tahapan perkembangan manusia terbagi menjadi empat, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia (Baltes, Lindenberger, dan Staudinger 2006). Setiap tahapan perkembangan memiliki karakteristik dan tugas yang berbeda-beda, salah satunya adalah masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa. Pada periode ini, manusia melewati fase eksplorasi dan pertumbuhan diri. Eksplorasi diri pada masa ini dilakukan dengan cara hidup mandiri, tidak bergantung kepada orang tua, dan berusaha mengembangkan nilai-nilai yang telah diinternalisasi dan diaktualisasikan dalam kehidupan.
Rentang usia 20 sampai 30 tahun adalah fase ketika kita dibandingkan atau membandingkan diri dengan orang lain. Mulai dari teman sebaya, saudara dekat, bahkan orang tua kita sendiri sering kali membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Sebel, ya? Di fase ini, semua orang terlihat tidak bisa dipercaya. Sering kita mendengar pertanyaan-pertanyaan umum yang muncul di lingkungan sekitar, seperti:
Mengapa semua temanmu sukses? Kamu sudah bekerja lama tetapi belum punya rumah? Mengapa pekerjaanmu selalu seperti ini? Mengapa kamu belum selesai kuliah? Mengapa kamu belum lulus? Kamu sudah setua ini dan belum menikah? Kamu sudah menikah tetapi belum punya anak?
Quarter Life Crisis diibaratkan ruangan gelap dalam sebuah terowongan. Kita adalah orang yang berdiri di tengahnya, yups, tepat di depan cahaya itu. Cahaya yang ada di hadapan kita itu, adalah tujuan hidup, our greatest hope, the grand goal. Tujuan hidup yang dimaksud bukan tujuan biasa seperti jadi sukses, ingin punya usaha, ingin membahagiakan orang tua, dan sebagainya. Yang saya maksud tujuan hidup adalah raison d'etre - reason for being. Kalau kata orang Jepang, namanya Ikigai.
Generasi milenial (lahir di tahun 1980-an hingga 1997) mereka ini adalah kelompok yang memiliki banyak permasalahan dalam hidupnya, termasuk kecemasan akan masa depan. Perasaan cemas, bingung, takut, dan sedih akibat masalah karier, asmara, keuangan, hubungan sosial, dan tujuan hidup yang disebut dengan quarter life crisis. Menurut Dr. Oliver Robinson, Psikolog dari Universitas of Greenwich London, menyatakan bahwa masa transisi dari masa remaja ke masa dewasa, yakni pada dekade ketiga (25-35 tahun), merupakan masa yang rawan menghadapi quarter life crisis. Orang-orang yang mengalami quarter life crisis merasa tidak memiliki kesesuaian atau merasa hidupnya tidak bernilai, dan itulah yang dirasakan generasi milenial saat ini.
The Guardian menyebutkan dalam penelitiannya bahwa 86% generasi milenial pernah mengalami quarter life crisis. Sebuah badan riset dari LinkedIn juga melakukan survei, dan hasilnya menunjukkan bahwa 61% wanita pernah mengalami quarter life crisis yang terjadi di kalangan generasi millenial. Pemicu krisis sangatlah beragam, di mana 57% merasa sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka, 57% merasa stres karena tidak memiliki rumah, dan 46% mengaku merasa tertekan karena belum memiliki pasangan. Situasi ini disebabkan oleh masalah keuangan yang membuat generasi milenial merasa insecure, kecewa, kesepian, bahkan depresi.
Faktor lain yang berkontribusi terhadap terjadinya quarter life crisis di kalangan generasi milenial adalah perfeksionisme karier, kurangnya kepuasan pribadi, tuntutan lingkungan yang kompetitif, ekspektasi keluarga, dan media sosial. Perfeksionisme berdampak pada quarter life crisis generasi milenial pada dirinya, orang lain, dan lingkungan sosialnya. Hal ini menyebabkan generasi milenial merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki serta menggunakan tolok ukur kesuksesan orang lain tanpa menghargai potensi diri mereka sendiri.
Teknologi berkembang pesat dan banyaknya jejaring sosial memudahkan masyarakat untuk berinteraksi dan mengaktualisasikan diri. Perkembangan ini membawa kenyamanan dalam kehidupan yang mempunyai dampak positif dan negatif bagi individu. Dalam hal ini, seseorang bisa saja mengalami distorsi akibat pengaruh negatif teknologi. Perkembangan media sosial saat ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap quarter life crisis dengan menjadikan media sosial sebagai wadah untuk mengeksplorasi kehidupan pribadi individu, dan tidak jarang memanipulasi kehidupannya hanya untuk menjadi terkenal. Hal ini dapat menimbulkan pertarungan pada kondisi mental individu bahkan krisis emosional di mana dia membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Sikap kaum milenial terhadap quarter life crisis juga sangat beragam, ada yang menganggapnya serius dan ada yang tidak. Mereka yang tidak menganggap serius tahap ini, yaitu mereka yang terus membiarkan rasa takut pada diri mereka sendiri, terus memperhatikan kesuksesan orang lain, dan memiliki sikap tidak menghargai diri sendiri, dalam jangka waktu tertentu akan membahayakan masa depan karena tidak ada arah dan tujuan hidup yang jelas. Bagi individu yang serius menghadapi tahap ini, mereka akan berusaha mengenali potensi dirinya, atau bahkan mengundang ahli profesional untuk membantu menangani permasalahan yang dihadapi agar segera menemukan arah hidup di masa depan.
Selain itu, penting juga untuk bersikap cerdas dan tidak panik ketika menghadapi quarter life crisis. Generasi milenial masa kini diharapkan dapat menyikapi fenomena tersebut dengan bijak. Banyak masyarakat yang panik atas fenomena ini sehingga berujung pada kurangnya rasa percaya diri dalam mewujudkan masa depannya. Fase quarter life crisis tidak perlu ditakuti jika ditangani dengan bijak, karena ada banyak cara untuk menjauhkan diri dari tahap ini. Namun, tahapan ini sangat mengancam bagi kamu milenial. Mereka menghadapi kecemasan dan menilai negatif dirinya serta terus-menerus membandingkan diri mereka dengan orang lain dalam hal karier, asmara, keuangan, dan tujuan hidup.
Individu yang berada pada tahap quarter life crisis sangat membutuhkan solusi untuk mencegah kecemasan, kebingungan, ketakutan, kesedihan, bahkan depresi. Solusi yang ditawarkan saat generasi milenial menghadapi tahap quarter life crisis yaitu, kurangi sikap membandingkan diri dengan orang lain, rayakan kesuksesan kecil yang diraih, hargai diri sendiri, banyak membaca buku, cepat pulih dari kegagalan, terus berusaha, cari teman yang tepat untuk berdiskusi secara langsung, kurangi rasa baper di media sosial, kembangkan sikap bijak dalam bermedia sosial, rangkai impian dan tujuan sesuai potensi diri.
Memercayai adanya Tuhan juga menjadi solusi untuk mengatasi quarter life crisis ini. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki sikap mental seseorang dan menumbuhkan rasa syukur atas keberhasilan yang telah dicapai. Percaya bahwa Tuhan berperan dalam kehidupan setiap individu dapat membangun prasangka baik untuk mewujudkan tujuan hidup. Setiap orang memilik kewajiban intrinsik untuk berdoa dan berusaha serta yakin pada ketetapan Tuhan.
Fase quarter life crisis mungkin salah satu fase terburuk yang pernah dialami manusia dalam hidup. Di fase ini, kita punya semacam beban moral untuk membalas jasa orang tua dan memenuhi ekspektasi orang lain. Belum lagi dengan lingkaran pertemanan yang menyusut, entah karena kita yang makin sibuk atau memang ditinggalkan. But this is the reality. Kalau di usia ini kita tidak menentukan tujuan hidup, bagaimana kita bisa dikenang nanti saat tutup usia, kita akan mudah terombang-ambing dengan pendapat orang lain. Kemungkinan terburukya akan menjadi insecure.
Saat menghadapi fase quarter life crisis, kita bisa belajar realistis dengan cara mempraktikkan konsep hidup ala orang Jepang yang disebut ikigai. Sebagai contoh:
Saat kita sudah lulus kuliah, kemudian mendapat pekerjaan dengan gaji 3 juta rupiah per bulan. Ini artinya bahwa, what you can be paid for dan what you're good at-nya sudah tercapai. Selanjutnya tinggal mengeksplorasi what you love dan what the world needs. Sekarang, coba cari sesuatu yang kita sukai, entah itu main game, belajar memasak, merawat tanaman atau bisa juga cara lain. Usahakan aktivitas yang dilakukan bisa menjadi passive income, misalnya: usaha toko online, TikTok, content creator, konten blog. Apa pun itu yang penting bisa menambah penghasilan.
Selanjutnya, what the world needs. Untuk memenuhi ini, kita tidak perlu terjun langsung kampanye ke lapangan tiap hari. Cukup menyisihkan sebagian rezeki kita untuk menolong orang lain, 2000 sampai 5000 rupiah tidak masalah, yang penting kita berikan pada orang yang membutuhkan.
Semoga dengan membaca tulisan ini, kita bisa menghadapi fase quarter life crisis dengan pikiran positif dan mampu mengendalikan rasa cemas, kebingungan, ketakutan, maupun kesedihan yang berlebihan.